Selasa, 17 Maret 2009

TUBAN.....Kota Tua Yang Tersapu Sejarah

Di postingan saya sebelumnya memang judulnya terinspirasi dari Blognya AKLAM : hifatlobrain.
Yos de potogaper dengan gambar2 eksotisnya sedikit mengulas tentang tuban ...dan ini melekat di sudut bagian memori saya sejak setahun yang lalu.
ada apa di tuban.....kira2 begitu pertanyaan saya ketika ajakan itu menarik saya, yang pertama muncul di benak adalah ;

satu: LEGEN... dan TOAK, di semua tempat yang menjual nira siwalan alias legen hampir selalu mereka bilang "ini dari Tuban mas" ( gak tau beneran apa bukan) . Anda sudah pernah melihat sosok buah siwalan kan?

Lalu Tuak alias Toak tuban adalah " Juice Liquor " alias nira siwalan murni yang difermentasi hingga kadar alkoholnya meningkat hingga nggak tau berapa puluh persen, normalnya sih 10 % yah nggak tinggi2 amat, tidak seperti CIU mBekonang, yang dari gossip yang saya denger dari anak2 AGL kadarnya sampai 40 % gila apa...? yaah mirip tuak Nias lah, atau tuak Medan, bedanya tuak Medan dibuat dari nira pohon aren yang difermentasi dan ditambahi dengan potongan2 kayu yang berasa pahit, lalu dikemas di botol2 lalu beredar di lapo2 tuak di sepanjang rute Bus ALS, sampai ke kawasan nongkrong sopir metromini Jakarta yang notabene suku etnis Batak, sampai lapo2 ( nama lain warung yang menyediakan tuak) di setiap daerah di nusantara ini. Biasanya sih Tuaknya belum lengkap bila tidak dihidangkan dengan daging anjing ( sory buat pecinta anjing), lalu sambil pada mabok..pecinta2 botol itu berdendang...."LISSSOY!!"
tidak seperti tuak medan ; Toak Tuban dikemas dalam Jerigen2 ukuran sepuluh liter. Penjualnya pun kadang2 ibu yang sambil menggendong anak balitanya, sambil lalu. Salah satu tempat penjualan legen dan Toak tuban ini adalah jalan Raya Tuban -Babat. Selain menjual Legen mereka juga berjualan Ikan Jambal roti Kering yang dikemas sederhana dalam plastik transparan. Jambal roti kayak gini paling lezat jika dibuat nasi goreng ikan asin, atau pepes peda.....uhhhh....... ( tapi waktu ngobrol2 soal ikan asin yang diawetkan dengan formalin jadi hilang selera nih...he)
dua: Teri nasi kualitas wahid yang melebihi teri Medan - yang ini diekspor ke Jepang, dan sisanya beredar di kota Semarang dalam bentuk suvenir kecil2 bertuliskan "BALADO TERI" Merk GN di toko oleh2 PALING TERKENAL di jalan Pandanaran, Semarang. merk GN..? BALADO TERI "GN" ini memang ada ceritanya. Pembuatnya Oma Gwan Nio pada suatu saat di awal tahun 80'an, mereka sekeluarga berziarah ke pantai Tuban tempat abu jenazah salah satu leluhur mereka disana. Sepulangnya dari Tuban Oma Gwan memutuskan untuk membuat cemilan teri kacang dan dikemas kecil2 untuk dikirim ke toko di Semarang.
Akhirnya Teri Balado itu sekarang telah beredar ke semua tempat, sampai ke Perancis, Amerika, untuk bekal piknik dan seterusnya.

Kesan pertama saya tentang kota Tuban adalah : "ternyata saya selama ini salah paham..!"
saya sangka Tuban kota Kecil, yah seperti kota Rampah yang berada di antara Tebing Tinggi dan Medan keyek gitulah....ternyata Tidak!!

Tuban seperti Jogja.

Setiap sudut jalannya lurus menghadap utara dan Selatan, as Square as blocks..!!
Luar Biasa......kata yang udah pernah ke California....kotanya ya kayak gitu.....ooooo....gitu ya?
Jalan Utamanya tetap menyusuri pantai Utara Jawa dan perkembangan kota mekar kearah Selatan, termasuk alun2 kota yang ada di sisi jl. Sudirman - Tuban.
jadi jika Aklam cerita kota ini sudah berumur 700 tahun, bagi saya mungkin lebih..!!
di atlas nusantara untuk Sekolah Menengah Atas yang saya baca baru2 ini di Gramedia, sejak era sebelum tahun 12oo masehi , desa Tuban sudah eksis sebagai pelabuhan kapal2 antar benua di Nusantara....WAW.

Berbekal informasi seadanya pencarian Batik Tulis Tuban kami mulai dari sebuah showroom yang ditunjukkan oleh staff Hotel di jalan Basuki Rahmat. dan dari perjalanan antar toko sampailah kami ke workshop batik tulis "Zaenal Gedog Tuban".



Motif primitif khas Tuban memang asing bagi yang baru pertamakali melihatnya. Namun sekali bentuk itu tergambar, setiap kali kita melihat bentuknya akan langsung terasosiasi dengan " Batik Tuban". Seperti yang diulas Kmelina di blognya ,

Batik selama ini identik dengan Solo Jogja dan Pekalongan.

" Batik di Tuban!? ..kayaknya nggak ada deh..."

itu bunyi sms sobat saya Qijer, waktu saya bilang saya ada di tuban lagi lihat2 batik tulis.
Mas Wiwied yang sederhana dengan keringat berlelehan karena workshop yang pengap karena panas lilin/ malam yang dikerjakan puluhan pembatik tulis disana, menceritakan bagaimana mereka bergulat dengan permintaan pasar yang lebih memilih baju muslim dan batik dari pekalongan.

Namun dari pola dan design gambar serta kehalusan pekerjaan memang Batik Tuban berbeda dari semua batik alusan dari kota2 lain.
Tapi itulah khasnya Batik Tuban, primitip ...kalo kata bang Mandra'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar