Jumat, 31 Juli 2009

Kamis, 30 Juli 2009

asap cair dan biopestisida

Beberapa waktu lalu blogwalking dan berjumpa dengan asap cair di internet, teknik yang dikembangkan PPKT djokdja ini tampaknya butuh disosialisasikan pada masyarakat produsen makanan sebagai alternatif pengganti bahan pengawet kimia yang jelas berbahaya. Jangankan formalin atau borax, bahkan kristal asam sitrat yang sering dipakai sebagai pengawet manisan itupun juka dikonsumsi dalam jumlah dan waktu yang panjang berpotensi merusak jeroan kita.......wek.
Teknik pembuatannya yang berbasis kondensasi, mengingatkan saya pada sekelompok petani di dataran tinggi Karo, di Sumut, yang belakangan ini mengembangkan pertanian organik dengan berpupukkan kompos padat dan kompos cair, ber-antihama-kan asap cair yang berasal dari kayu2 sisa dari sekitar mereka, dan berbuah manis dengan padi mereka yang tumbuh subur dan berbunga sangat rimbun
Pikiran cabul saya berandai-andai, jika semua petani memakai pupuk kompos padat dan cair buatan sendiri, dan memakai pestisida yang berasal dari kayu2 sisa di sekitar mereka, apa nggak bangkrut tuh pabrik pupuk kimia dan pabrik pestisida...hahahaha.

Tapi yang mengganggu saya , adalah produktivitas hasil petani di dataran tinggi karo tersebut, dengan bertani organik, jauh lebih tinggi dibandingkan jika mereka memakai pupuk dan pestisida kimia......Hmm....

Pestisida yang saya maksud adalah bio pestisida, dibuat dengan cara memanaskan sisa2 kayu dan serpihan2 kayu sampai menjadi arang, asap yang dihasilkan dari pemanasan tersebut kemudian didinginkan dan ditampung seperti gambar diatas, bedanya asap kayu cair ini berwarna hitam pekat, dan dalam 3 bulan akan mengendap menjadi 3 lapisan, lapisan paling bawah berbentuk ter, lapisan tengah air, dan lapisan paling atas minyak.
Biopestisida berwarna hitam ini terbukti efektif mengusir hama2 pada tanaman produktif seperti jeruk dan sayur mayur.
Menurut petani dataran karo itu, teknik ini sebenarnya sudah dikenal oleh petani2 di Muangthai sejak nenek moyang mereka, yang menyuling sisa2 kayu,bambu,dan ranting2 untuk dipakai sebagai pengusir hama.

jeeps,Truck,and bugs cars around the Fam




BLUR IN MOTION






sesekali , blur memang lebih indah jika dinikmati dalam ukuran yang kecil

Tau kua hechi made in siantar



pertamakali kenal makanan ini di tempat ini, dan selalu makan disana berulang2 tanpa bosan.

nama menu :

tau kua hechi,tahu kangkung,

keterangan :

makanan khas hokkien, pertamakali muncul di daerah pematang siantar- dan Medan sumut.
menu originalnya hanya berisi tahu kuning-kangkung,tauge,rajungan goreng tepung, serta peyek udang.
Kemudian beberapa pedagang di medan membuat variannya dengan menambahkan bakwan udang, sambel cabai rawit dan acar timun.
menu original jajanan ini asam manis, bukan pedas.


daftar isi :

- tahu kuning rebus
- rajungan goreng tepung
- udang goreng tepung
- potongan kekyan
- peyek udang
- kangkung muda
- taoge
- saos asam manis

tersedia di : google dengan keyword yang sama

level : bintang ampat

Senin, 27 Juli 2009

Your Shot Daily Dozen

SENTARUM aerial pictures

T.N. Sentarum dari ketinggian 2000 m diambil di wikimapia.org

LAST OF AMAZON 2


Terpaut ribuan mil, jarak antara suku amazon dan suku dayak punan di kalimantan, tapi lihat kemiripan mereka, rumah panjang, anting mereka, sumpit, pengetahuan mereka ttg obat, betapa miripnya











LAST OF THE AMAZON

AMAZON INTERACTIVE MAP akan menunjukkan pada anda bagaimana level kerusakan hutan di wilayah itu akibat penggundulan, pembakaran dan penggalian tambang. butuh berapa lama untuk menghabiskan hutan sebesar amazon?.... tidak lama saudara-saudara.
sebelum semuanya habis silakan menikmati gambar2 indahnya :









gambar terakhir ini diambil dari foto satelit NASA pada Terra orbit 3178, pada tanggal 23 juli tahun 2000. Diambil di dekat kota Manaus, Brazil ; Rio Solimoes dan Rio Negro yang membentuk sungai amazon. Kota Manaus terlihat sebagai bercak kelabu pada tengah gambar, di sebelah kanan sungai coklat raksasa.