Rabu, 23 Januari 2008

Jasa rating internet...?

Quantcast is the World’s Only Open Internet Ratings Service

Quantcast is a new media measurement service that lets advertisers view audience reports on millions of websites and services. Only Quantcast combines directly measured audience data with panel-based estimates to deliver accurate third-party metrics and easy-to-read profiles on digital media properties.
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada pihak2 yang secara lsg dan tidak telah membuka wawasan saya betapa "TELANJANGNYA" para user internet di mata "dewa2 penguasa Internet"

ibarat dunia parallel, internet memungkinkan perancangnya melakukan tindakan apapun kepada siapapun di dunia maya, just to playing GOD , exactly...with their own option.

salah satunya yang barusan saya belajar pahami, bagaimana semuanya terhubung dalam internet sehingga memungkinkan perancang internet, melakukan perhitungan,pelacakan , pemetaan dan pengawasan dengan cara dan tujuan mereka.

sesuai tujuannya semula, internet yang dikembangkan pada akhir masa perang dingin, DARPA NET, mengantisipasi gagalnya komunikasi bila perang nuklir benar2 terjadi, adalah proyek militer rahasia yang dalam proses selanjutnya dibuka kepada publik mengingat potensi dahsyat yang dimilikinya, dan terbukti benar,toh.

ibarat belati tentara bersisi dua, tetap saja belati tersebut milik tentara, dalam hal ini U.S Department of Defens - DepHan Amerika Serikat.

kembali ke ......atas.....Quantcast merupakan salah satu aplikasi yang dikembangkan dari U.S mlewati jaring2 serat optik di seluruh dunia, yang mampu melakukan pemetaan terhadap para user internet mis: pembaca harian jawapos, bagaimana lalu lintas pembacanya, pembaca menurut jenis kelamin,menurut penghasilan,menurut umur, etnis,pendidikan, dan link nya kepada media2 yang sejenis lokal.

benar2 aplikasi yang sangat gamblang, buat para pemasang iklan, maupun peneliti media untuk membantu mereka memahami bagaimana media mempengaruhi manusia secara global.

Kamis, 17 Januari 2008

BLUE ENERGY.......Facts or HOAX

Konvensi Perubahan Iklim di Bali (3-14/12/2007) terasa biasa saja, bahkan dengan kehadiran AL GORE, mantan wapres AS. era Bill Clinton.
Yang mengejutkan justru kabar dari pak SBY yang mengumumkan khabar bahwa Indonesia berhasil menemukan terobosan baru di bidang pengurangan emisi karbon.
Mungkin wartawan jawapos bisa saja "salah kutiP" atau salah persepsi, tapi berita tersebut pernah ditayangkan di salah satu sessi news di ANTV, dan apakah itu sosok penemu blue energi yang sama atau tidak , bisa dicek ke antv. Namun di newsbreak tsb, "blue energi yang dimaksud adalah motor merk H***A yang dimodifikasi ruang bakarnya, lalu bahan bakar yang dipergunakan adalah 50% premium murni dan 50% air murni .....(?)........ini mah bukan blue energy...
tapi NGACO energy.

Kadang2 pers yang kebablasan dalam mengekspose, bisa berakibat fatal. Maafkan saya bila lancang, tapi seperti labeling "wartawan kloning" oleh beberapa jurnalis tanah air kepada beberapa lainnya memang masih saja mewabah. tanpa konfirmasi,tanpa validasi berita, dan yang paling mendasar..... (maaf) tanpa akal sehat.
fakta dan kebohongan adalah dua hal yang harus dipisahkan kecuali memang ada tendensi untuk melakukan disinformasi ataupun memang fakta yang sebenarnya terjadi.
jadi rumusnya = P+H20 =premium plus air murni sama dengan mesin jeboll.....hwarakadhah.


SEHAT TANPA OBAT...........emang bisa Gitu?



SAKIT : timbulnya gejala karena melemahnya daya tahan tubuh, karena masuknya anasir asing berupa virus , bakteri, racun , dll.
PEMBERIAN OBAT :
usaha mengurangi-menghilangkan gejala yang timbul akibat virus-bakteri dan racun dengan cara melumpuhkannya - lewat tablet(oral) /suntik
Corporate Secretary Kimia Farma ( pada kesempatan Ulang tahun Kimia Farma 2006 ) :
  • Obat adalah racun , Jangan diminum bila anda tidak terpaksa melakukannya, atau dengan petunjuk ahli medis, apalagi minum obat dengan referensi orang lain/teman/sahabat....tanpa rujukan......bisa fatal akibatnya.
  • tidak ada obat tanpa efek samping - semua obat bahkan yang bertanda lingkaran hijau sekalipun punya efek samping
  • Survei oleh LSM Asing menunjukkan rata-rata Dokter di Indonesia selalu memberi dosis resep untuk pasien 2x lebih banyak dari seharusnya-artinya pemakaian obat jadi lebih mahal dari yang seharusnya diberikan
  • Survei itu juga menunjukkan Indonesia adalah salah satu negara pemakai antibiotik tertinggi
  • Apoteker adalah Second opinion terhadap resep dokter , bertanggung jawab dan wajib memberikan pengertian pemberian obat thd pasien, berhak memberitahukan bahaya dan efek samping pemberian obat yang akan dipakai pasien
kesadaran yang harus selalu dilakukan setiap orang:

1. selalu menimbang dengan cermat obat yang akan masuk ke dalam tubuh
- obat adalah zat kimia beracun yang larut dan beredar dalam darah.
pernahkah anda menanyakan berapa lama suatu obat berada dalam tubuh?
dan bagaimana obat tsb akan keluar dari tubuh?

2. selalu menanyakan kepada pihak apotik - saat menerima obat:
- satupersatu jenis obat dan cara pakainya dan efek sampingnya. BILA MUNGKIN MINTA LEMBARAN BROSUR OBAT DIDALAM BOX FULL -untuk anda mintakan second opinion pada saudara anda yang dokter atau apoteker.

3. Selalu mengenali sifat obat yang masuk ke dalam tubuh :
tanda dalam kemasan obat berbentuk lengkaran menunjukkan sifat obat.
Lingkaran Hijau adalah obat Ringan,
LIngkaran Biru adalah obat keras , .
Lingkaran MERAH adalah obat yang harus dengan resep doketr pemakaiannya

4. selalu minta pada dokter anda untuk memberikan obat ringan - bukan obat patent yang cenderung kandungan obatnya keras

5. selalu mengikuti perkembangan dari badan POM tentang pengumuman obat2 yang dilarang dikonsumsi

6 selalu sadar untuk berupaya menjadi sehat tanpa obat!!...........saudara katakan tidak mungkin..?...itu hanya pola pikir saudara

Industri FARMASI dan MEDIS- ALAT2 MEDIS serta bidang KEDOKTERAN adalah wilayah Industri dan keilmuan yang melibatkan perputaran keuangan dan MODAL bernilai TRILIUNAN rupiah di setiap negara, jadi kita harapkan kita menjadi pihak yang dengan sadar dan bijaksana mensikapi hal tersebut. Karena pada tujuan akhirnya Dokter dan Obat adalah sarana YANG HARUS menyehatkan dan mensejahterakan manusia


Senin, 07 Januari 2008

perbendaharaan kata

Dari bahasa2 dunia, berapa yang kita tahu? mungkin hanya bahasa ibu kita, dan bahasa yang ditransfer selama 12 tahun pendidikan dasar +selanjutnya.
mungkin itu gunanya kamus

Pegangan Wajib seorang Asing

Maksudnya apa judul itu?.........

yah bayangkan saja anda sedang membawa ransel dan segala peralatan, turun dari kendaraan yang mengantar anda ke suatu tempat.......entah dimana..........APA YANG HARUS ANDA LAKUKAN..?
Yyyak......betul sekali jawaban anda.........mencari tahu dimana sebenarnya posisi kita saat itu dengan mencarinya di peta yang anda pegang saat itu. sekalipun membawa kompas, bila anda tidak memegang peta, ibarat memegang tongkat dengan menutup mata.
jadi selanjutnya sebagai seorang turis anda akan tahu mau pergi kemana, ya toh......
Happy Holliday.......!

Kamis, 03 Januari 2008

Asian Rules the Wave before Britain


Apakah yang terbayang di benak saudara ketika mendengar tentang gambaran suatu monumen peringatan yang tingginya 73 meter yang dipahat dengan tangan..?

Monumen seperti itu “hampir pernah ada”.

Frank Viviano dan Mike Yamashita, dua orang tersebut adalah beberapa dari sekian orang yang menyaksikan ukuran sebenarnya batu “calon monumen” tersebut di tempat asalnya.

Dan batu Granit maha raksasa itu adalah peninggalan Kaisar Zhu De, yang rencananya dibuat untuk menghormati ayahnya Zhu Yuanzhang – atau Kaisar Hongwu, sang pendiri Dinasti Ming.
Batu yang – menurut national Geographic – berukuran 31.000 metrik ton itu sampai hari ini masih berada di tempatnya di Yangshan - Provinsi Jiangsu.
Dan pasti saat itu sudah pindah ke ibukota jika bukan karena kendala transportasi untuk memindahkannya , masa tahun 1400–an , awal abad ke 15 masehi.

Ambisi yang mendorong untuk membuat monumen seperti itu adalah ambisi yang sama yang memutuskan melakukan ekpedisi pelayaran gigantik “armada Harta” laksamana Zheng he.
“ Alasan yang didorong oleh suatu yang sederhana – ambisi besar era Yongle ( era kaisar Zhu De)” demikian tulis NGM Indonesia edisi Juli 2005.



Sederhana…? sepertinya tidak. Pada era awal abad ke 15 ketertiban dunia ditentukan oleh kekaisaran China.

Dari salah satu catatan pelaut bernama Fei Xin, seorang dari salah satu pelaut yang mengikuti perjalanan “Armada Harta”menyebutkan:

“ Amanat Kerajaan - adalah membawa ketertiban ke empat penjuru ( bumi) sejauh kapal dan gerobak dapat melintasinya dan kekuasaan manusia dapat mencapainya”.


Ambisi besar yang menghasilkan pesan semulia itu bukan hal yang sederhana, ambisi seperti itulah yang melampaui zamannya , bahkan beberapa zaman sesudahnya.

Sosok Laksamana Zheng He – Cheng ho – yang terlahir dengan nama Ma he, hanyalah eksekutor – yang kebetulan saja bekas tawanan, dan beragama islam, yang kemudian dilatih dan diangkat jadi kasim kerajaan di istana Pangeran Yan, yang kelak manjadi raja Zhu De.

Kesimpulan yang dibuat Liu Yingsheng- pakar terkemuka ttg Cheng Ho dari Nanjing University, mengejutkan.

Penarikan “armada harta “ China dari kancah perjanjian dunia menyebabkan kekosongan , dan sejarah membuktikan tempat itu akhirnya diisi oleh IMPERIALISME EROPAH.Perubahan kebijakan kerajaan ini , lanjut Liu Yingsheng, mengubah sejarah, dan tiba2 mengakhiri apa yang mungkin dapat membuat masa depan Asia dan dunia sangat berbeda”.

Tapi suatu hal pasti, tidak ada hal besar terjadi tiba2.

Dan itu dilakukan sendiri oleh cucu Zhu De, raja Zhu Zhanji, yang menggantiikan anak Zhu de ; Zhu gaozhi yang hanya 9 bulan bertahta sebelum akhirnya meninggal.

Keputusan yang dipengaruhi oleh petinggi2 istana yang menentang pelayaran berbiaya tinggi.

Keputusan yang akhirnya mengubah Konstelasi peradaban dunia, mengakhiri era ketertiban.

Sosok raja Zhu De inilah yang jadi pertanyaan , bagaimana kejadian sebenarnya di Istana terlarang di Beijing, pada saat itu belum ada yang dapat mengetahui secara pasti

Bagaimana raja sebesar Zhu de, yang menyelesaikan pembangunan tembok besar, menyelesaikan perluasan Terusan raksasa, dan akhirnya memindahkan ibukota dari Nanjing ke Beijing, serta menyiapkan Kota Terlarang sebagai pusatnya - Dapat kehilangan Kharisma sedemikian cepat, dan kehilangan catatan sejarah, - faktanya dokumen2 era Yongle- yang ada di arsip pusat pemerintahan di Beijing, yang jumlahnya jutaan , hanya tersisa 10.000 dokumen di peperangan di akhir dinasti Ming –menurut NGM .

Dan sampai saat ini tujuan sebenarnya pelayaran armada harta sendiri masih jadi perdebatan di antara para pakar.

Naiknya Zhu De menjadi raja, catatan keberanian Ma he di perang Chenglumba yang merubah namanya menjadi Cheng, hubungan antara kedua sosok tersebut, dan mendapat kepercayaan raja hanyalah bagian dari episode sejarah.
Salah satu dugaan di kalangan para pakar sejarah, bahwa
Peran kepala ajudan pangeran sebagai pengatur utama siasat perang yang berhasil menggulingkan Kaisar dan menaikkan Zhu De menggantikannya, membuat Zeng He mendapat kepercayaan untuk mengepalai satu kesatuan angkatan Laut yang terkuat saat itu.

Dan Amanat kerajaan yang diemban “armada Harta” melingkupi semua tujuan2 lain seperti perdagangan, penggunaan kekuasaan militer untuk mengancam negara2 lain, pertahanan militer, Bahkan – rasa tidak aman kaisar Zhu de terhadap- bekas raja yang digulingkannya ; kemenakannya sendiri -yang melarikan diri keluar negeri.

Dan dugan para sejarawan, Laksamana Zheng diutus untuk memburu pendahulu Zhu tersebut, di sela2 mengemban tugas kerajaan.
Makam laksamana Zheng he sendiri tidak ditemukan, nisan bertuliskan namanya di Nanjing tidak berisi jasadnya.

Namun tulisannya di prasasti dondra head, Srilangka, yang ditujukan kepada Budha, Shiwa, dan Allah yang menghaturkan terima kasih atas belas kasih dan kesucian akhlak, serta mohon perlindungan , ditinggalkannya di Srilangka dengan berharap perang disana segera berakhir.


Permohonan akan perdamaian yang ditulis dalam tiga bahasa, China, Tamil dan Parsi.


( disarikan dari NGM;07/05: armada raksasa dari Timur)

etos kerja staf birokrasi Jepang

artikel berikut ini saya muat dari email testimoni seorang WNI yang belajar di Jepang.

01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan
ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: t eli ti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya
atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran.

Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya
mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya
membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.

Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen
pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana .

Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah
yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut m eli hat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat.

Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan
tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu,
istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang k eli ru tidak akan bunuh diri. Karena kek eli ruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00.

Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.

02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami memb eli nya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa),

karena kami sudah melihatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup
untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero

Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli .

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali m eli
batkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket meli hat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli .

03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi m eli hat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi)
yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya m eli hat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.

04.Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta.

Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.


Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang √°dalah yang tertinggi di dunia. Di
Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda
akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.

05.Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya.

Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat.

Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih
kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi – apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian.

Saling percaya adalah kuncinya.

Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School