Rabu, 01 April 2009

Ikan Jurung, Kenangan masa kecil dan keadaannya sekarang

Waktu itu mungkin liburan pertengahan tahun, aku di"paksa" paman dan bibiku untuk menginap di tempat mereka, di perkebunan teh di daerah Bah Butong.
Paman dan bibiku memberiku julukan si pemberontak, entah kenapa - tapi kedua kakakku yang sudah pindah ke pulau Jawa, membuat rumah jadi sepi, dan ini mungkin dirasakan oleh pamanda YON dan bibi Neni.....hmm salah satu kenangan terindah masa kecilku.
Sepupuku mengajakku kemana saja dia pergi, salah satunya mancing di sungai. Kami diajak oleh salah satu guru sepupuku yang memang ahli mancing ikan jurung - sejenis ikan tombro sungai air deras. Yang hidup di sungai-sungai berair deras di sumatera utara, Aceh sampai wilayah riau dan Jambi.
Ikan jurung / jurong sungai ini bentuknya mirip ikan mas , hanya saja sirip peraknya,geraknya yang sangat gesit, perilakunya yang ganas membuat semua pemancing ikan di sungai pasti penasaran untuk memburunya.
Ikan ini biasanya bergerombol di "lubuk" sungai atau bagian terdalam pusaran sebuah sungai. Perangainya berbeda seperti salmon yang suka "mendaki" melawan arus, jurung akan melakukan manuver apapun untuk melarikan diri dari pemangsanya tanpa peduli arus sungai, oleh karena itu perlindungan terbaiknya adalah lubuk sungai. Jumlahnya tidak akan lebih dari sepuluh ekor. Dari blognya pak soni akhirnya aku tahu ikan jurung ini sejenis dengan ikan hampala yang hidup di sungai- sungai air deras di kalimantan. PAda salah satu episode mancingmania di Trans7, aku bisa lihat bentuk ikan hampala.....Ya...itu sepupunya ikan jurung di sungai di Sumatera....!!!
yang membedakannya mungkin ada garis hitam melingkari tubuh ikan hampala, sedang jurung badannya mulus..seperti ikan mas.
Yang membuat kenangan mancing pertamaku paling berkesan adalah ketika berkali2 pancing kami putus disambar ikan jurung di sungai kecil di Bah Butong.......waw.....hentakannya yang kuat ditambah pengalaman mancing nol membuat memori yang tertanam di kepalaku..."aku harus bisa melihat seperti apa ikan jurung ini..."
Dan keinginan itu terwujud ketika keluarga kami akhirnya pindah ke Bandar Pasir mandoge, wilayah yang dilalui Sungai Asahan, sungai terbesar di pedalaman Sumatera. suatu saat Pak guru yang sering mampir ke rumah untuk membawa ikan tangkapannya, menunjukkan pada ayahku ikan jurung tangkapannya. beratnya mungkin dua belas kilo.
aku tak bisa berkata2......berjongkok di depan sepedanya melihat ikan ganas itu.....waw.....ini ikan yang berkali2 memutus pancingku di Bah Butong 5 tahun seebelumnya.

Gambar di sebelah ini milik blog pencinta hampala Adi Wisaksono aka pak Soni, dan ikan jurung sungai yang dibawa wak Haji tu beratnya kira-kira 1,4 kilo. Jadi kalau dua belas kilo bayangkan seberapa besarnya.

Ayahku yang memang penggemar ikan bakar, tidak menyiakan kesempatan, ikan itu dibelinya dari pak guru pemancing itu, tapi ternyata bukan masuk ke dapur. Tak lama setelah itu sopir ayahku, Bang Saragih mengeluarkan mobil.

" Diantar kemana pak...?" tanyanya culun.

" Pake nanya pulak kau.........sana kirim ke tempat boss...!" potong ayahku.

Ikan jurong dewasa ini semakin langka di sungai - sungai sumatera Utara, justru di Tapanuli selatanlah populasinya bisa berkembang, karena dilindungi. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, di Danau Siais di Kecamatan Siais yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Padang sidempuan , di danau di Desa Rianiate itu, akan ditemui segerombolon ikan Jurung di anak sungai yang mengalir di tengah kampung dan pinggir Masjid Rianiate. Konon menurut cerita masyarakat, ikan-ikan Jurung sungai itu merupakan peliharaan seorang syeh sejak zaman dahulu yang terus bertahan dan dilestarikan masyarakat sekitar hingga kini. Kata masyarakat, ikan-ikan itu tidak bisa diambil, Keunikan ikan Jurung itu, selain hidup di sungai yang dangkal, mereka tidak pernah pergi dan terusik oleh siapapun yang datang melihat Kejinakan gerombolan ikan itujuga menjadi daya tarik tersendiri.
Fenomena yang hampir sama yang bisa ditemui di pemandian Cibulan di Sumedang. Ratusan ikan Kancra Bodas yang berukuran montok2, mendatangi tepi pemandian yang biasanya didatangi pengunjung dengan mengumpankan ikan2 kecil untuk dimakan. pemandangan yang menakjubkan.
Upaya untuk membudidayakan ikan jurong sungai memang telah dirintis, namun yang lebih penting bagaimana memberi pemahaman masyarakat setempat untuk tidak mengambil ikan ini secara berlebihan dan mengembangkan budidayanya demi kelestarian ikan air deras asli Indonesia. Terancamnya kelestarian ikan ini bukan hanya disebabkan karena pencemaran dan rusaknya habitat saja, juga karena permintaan pasaran LN khususnya malaysia.


terimakasih untuk: http://grayrose.wordpress.com/2008/10/18/mudik-kenangan-yang-nggak-lepas-banget-dari-ingatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar