Selasa, 08 Juni 2010

Pasukan Dengan Senjata terbaru

Satuan tempur yang satu ini sama seperti kesatuan lainnya, resmi dibentuk dengan kepengurusan lengkap - namun keberadaannya tetap misterius. Satu-satunya bukti kemunculan mereka adalah saat Konferensi Iklim di Bali Desember 2009 yang lalu

Pemunculan pertama mereka juga tidak akan tersiar media jika bukan karena wartawan foto dan berita yang  akhirnya mendapatkan fakta bahwa mereka bersama  Sat Gultor-81 Kopasus dan  Den Bravo 90 diperbantukan dalam  Denmatan (Detasemen Penyelamatan) Paspampres. Gambar diatas yang saya kutip dari pemiliknya - seorang Blogger yang juga pemerhati forum MilitaryTimes.com secara gamblang menjelaskan senjata terbaru mereka - G36 dan HK 416 - seri senjata  yang  tidak dapat dimiliki seorang prajurit kecuali dia adalah seorang anggota pasukan elite.







G 36 dan HK 416

“Delta Force worked with a gun maker to come up with a better weapon. The 416 is now considered in many circles to be the best carbine in the world, but unless you're Delta Force, you won't get one. “
Demikian petikan dari diskusi di forum Military Times.com yang sedang membahas tentang senjata
alternatif pengganti M-4 yang selama ini dipakai oleh prajurit-prajurit paman Sam. Dan saat ini Delta
 Force mempelopori pemakaian HK 416 sebagai senapan  andalan yang akan dipakai dalam
operasi-operasinya menggantikan M4.
Pemikiran untuk  mencari senjata pengganti  timbul dikarenakan banyaknya masalah-masalah yang
 muncul di medan operasi,  contohnya sebagai berikut:
Pada 4 Maret 2002, sebuah RPG menghantam mesin helicopter Chinook MH-47 yang mengangkut
personil Rangers di Gunung Shahikot, sebelah Timur Afganistan. Helikopter itu jatuh dipuncak
Takur Ghar, diketinggian 10.000 kaki .
Hujan peluru dari laras senjata para pejuang Al Qaeda menghujani helicopter dan menewaskan sebagian
anggota pasukan yang masih berada didalamnya.
Kapten Nate Self , seorang anggota Rangers yang selamat  merangkak keluar helicopter diikuti beberapa
 anggotanya yang selamat, berlindung di batu-batuan dan mencoba membalas tembakan.
Saat itulah Self merasakan M4nya macet, nalurinya yang terlatih segera memeriksa apa yang terjadi dan
ia menemukan peluru yang menyangkut dalam kamar peluru.Segera ia menyiapkan tongkat pembersih yang selalu tersedia dalam  senjata dan mencoba untuk mendorong peluru itu keluar, tapi peluru itu tidak bergerak bahkan tongkat pembersihnya patah, dan ia tidak punya pilihan ain kecuali mencari senjata lain yang masih berfungsi milik  anggota pasukannya yang telah tewas dalam bangkai helikopter. Dan ditengah desingan peluru musuh, ia berhasil mengambil senjata M4 yang masih berfungsi, lalu kembali bertempur.Karena keberaniannya hari itu, Kapten Self mendapatkan penghargaan medali Silver Star.
Bila seorang serdadu yg dilatih dengan baik seperti Kapten Self tdk bisa memperbaiki senjata M4 nya, itu membuktikan bahwa senjata itulah yang bermasalah, bukan personilnya.Kisah  tersebut diatas hanyalah satu contoh ilustrasi dari beberapa kejadian serupa selama operasi militer di Iraq dan Afganistan
Problema yang berulang dan sangat jelas ini membuat para petinggi pasukan Delta Force yang tengah bertugas di Iraq dan Afghanistan, memutuskan untuk menggunakan carbine yg jauh lebih stabil dibanding dgn senapan M4 dan M16 yg selama ini dipakai oleh pasukan AS.
Akhirnya diputuskan untuk bekerjasama dengan pembuat senjata dari Jerman
yaitu Heckler and Koch dan dirancanglah sebuah perubahan pada sistem gas
yang ada pada senjata M4. ereka yakin perubahan ini akan membuat sebuah senjatanya yang lebih stabil
dan tahan lebih lama. dan setelah melalui beberapa tes dengan bantuan para ahli dari pasukan
Delta Force, lahirlah H&K 416 pada tahun 2004.
Kini Personil pasukan elit unit commando, yg dulunya bernama 1st Special Forces Delta Attachment,  menggunakan senapan itu pada tiap operasi tempur mereka.Saat ini senapan serbu HK 416 dianggap sebagai carbine yang paling baik oleh banyak grup di seluruh dunia.
Senjata ini mengkombinasikan akurasi dan kenyamanan senapan M4 dengan ketangguhan senapan AK47.
Ternyata penggunaan senapan serbu HK 416 tidak hanya dimonopoli oleh Delta Force,
tercatat bahwa angkatan bersenjata Norwegia juga mempelopori pemakaian HK 41 di daratan Eropa.
  ( http://kopral68.multiply.com/journal/item/5 )
Dan satuan tempur itu bernama DENJAKA - Detasemen Jala Mengkara.
 Persenjataan mereka adalah Minimi 5,56 mm, g36, HK416, SS-1, CZ-58, Styer AUG, SS-2, HK 53, UZI, SPR-1 MP5, Beretta 9 mm, SIG-Sauer 9 mm. Kemampuan mereka  Spesialis Antibajak kapal laut, segala bentuk teror aspek laut, sabotase, intelijen & kontra-intelijen.
Pasukan ini Dibentuk 13 November 1984 , Detasemen Jala Mangkara (disingkat Denjaka) adalah sebuah detasemen pasukan khusus TNI Angkatan Laut. Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL. Anggota Denjaka dididik di Bumi Marinir Cilandak dan harus menyelesaikan suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut). Lama pendidikan ini adalah 6 bulan. Intinya Denjaka memang dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja terutama anti teror aspek laut. Denjaka dibentuk berdasarkan instruksiPanglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Denjaka memiliki tugas pokok membina kemampuan antiteror dan antisabotase di laut dan di daerah pantai serta kemampuan klandestin aspek laut.
Sejarah Pasukan Khusus AL Pada tanggal 4 November 1982, KSAL membentuk organisasi tugas dengan
nama Pasukan Khusus AL (Pasusla). Keberadaan Pasusla didesak oleh kebutuhan akan adanya pasukan khusus TNI AL guna menanggulangi segala bentuk ancaman aspek laut. Seperti terorisme, sabotase, dan ancaman lainnya.
Pada tahap pertama, direkrut 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi (Taifib) dan Korps Pasukan Katak (Kopaska). Komando dan pengendalian pembinaan di bawah Panglima Armada Barat dengan asistensi Komandan Korps Marinir. KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Markas ditetapkan di Mako Armabar.

Melihat perkembangan dan kebutuhan satuan khusus ini, KSAL menyurati Panglima TNI yang isinya berkisar keinginan membentuk Detasemen Jala Mangkara. Panglima ABRI menyetujui dan sejak itu (13 November 1984), Denjaka menjadi satuan Antiteror Aspek Laut. Merunut keputusan KSAL,
Denjaka adalah komando pelaksana Korps Marinir yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kemampuan dan kekuatan dalam rangka melaksanakan operasi antiteror, antisabotase, dan klandesten aspek laut atas perintah Panglima TNI.[1]
Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah  berkualifikasi Intai Amfibi. Dalam menjalankan aksinya, satuan khusus
ini dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara. TNI AL masih memiliki satu pasukan khusus lagi,yaitu Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kedua satuan pernah beberapa kali melakukan latihan gabungan dengan US Navy SEAL.[1]

Denjaka terdiri dari satu markas detasemen, satu tim markas, satu tim
teknik dan tiga tim tempur. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka
ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan
dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa
kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu
juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut
dan vertikal dari udara.
Pendidikan yang dilakukan
Kursus awal
Setiap prajurit Denjaka dibekali kursus penanggulangan antiteror aspek laut yang bermaterikan:
• Intelijen,
• Taktik dan teknik anti-teror, dan anti-sabotase,
• Dasar-dasar spesialisasi,
• Komando kelautan dan keparaan lanjutan
Kursus ini dilaksanakan setiap kurang lebih 5,5 bulan bertempat di Jakarta dan sekitarnya.
Kursus lanjutan
Dilanjutkan dengan materi pemeliharaan kecakapan dan peningkatan
kemampuan kemahiran kualifikasi Taifib dan Paska, pemeliharaan dan
peningkatan kemampuan menembak, lari dan berenang, peningkatan
kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia,
darat, laut dan udara, penguasaan taktik dan teknik untuk merebut dan
menguasai instalasi di laut, kapal, pelabuhan/pangkalan dan personel
yang disandera di objek vital di laut, penguasaan taktik dan teknik
operasi klandestin aspek laut, pengetahuan tentang terorisme dan
sabotase, penjinakan bahan peledak, dan peningkatan kemampuan survival,
pelolosan diri, pengendapan, dan ketahanan interogasi.

( kutipan MAKO  Marinir Cilandak)

3 komentar:

  1. wah bakalan mantap kalau ounya paskan kaya gini bos....

    BalasHapus
  2. panglima tertingginya sudah janji mau benahi pasukan elitenya........

    kalo ada yang mau macem2.....jangankan ASYKAR WATANIAH..... SEMUA PASUKAN ELITE NYA KELUARKAN SEMUA....................

    BET...BET..BET......HADEZHIG......

    BalasHapus
  3. ngeri pasukan nya gan sama senjataya,,

    BalasHapus