Kamis, 20 Mei 2010

Pesona pasar subuh ( 1 )

pasar subuh Pandegiling 
(www.skycrapercity.com)
 
Pemandangan yang takpernah saya lewatkan bila pergi ke suatu tempat, adalah pasar subuh. Entah Dimanapun, kadang di keramaian pasar PandeGiling- Surabaya, pasar kue subuh di kawasan Senen- Jakarta, pasar Kotagede - jogjakarta, pasar pecinan Tangerang, dan banyak lagi. Memang tidak semua orang suka pemandangan pasar tradisional di waktu dini hari, semrawut - hiruk pikuk- becek jika hujan- identik dengan copet - chaos lah ....pokoknya.....kelihatannya.


pasar subuh Tangerang (pic.google.com)

(pic.google.com)
Namun yang terjadi sebenarnya adalah suatu harmoni yang setiap hari terjadi adalah seperti itu, kegiatannya dimulai jauh sebelum dini hari menjelang, para penyedia jasa lampu - yang mendapat pemasukan dari menjual penerangan di pasar, sudah menyiapkan kabel lampu dengan centang perenang di tempat-tempat yang hanya dia yang hafal. makin malam para pedagang yang datang dari wilayah jauh- desa dan penghasil sayur - biasanya sudah datang dengan mobil Bak terbuka bermuatan lebih. mereka datang bersama persediaan sayur yang setiap hari mereka bawa - tergantung panen apakah di ladang mereka hari itu. keberanian yang luar biasa - tidak jarang mereka duduk nyempil di ujung bak pickup yang berukuran 10 x 10 centimeter - tanpa pengaman apapun - miris melihatnya- mengabaikan keselamatan demi mencari nafkah keluarga.

(pic.kompas.com)
kadang terjadi kecelakaan - saat di perjalanan, kantuk yang menyerang membuat mereka lengah, jatuh ke jalan aspal. Pedagang pisang langganan saya pernah berjualan dengan mata bengkak, waktu ditanya jawabannya enteng..:

" iya nih...jatuh tadi malem......."
 
masyaallahh..........mereka ini pejuang.
bila pasar tidak menyediakan meja dagangan, maka biasanya mereka menggelar dagangan di atas aspal begitu saja, sortasi dilakukan setelah tengah malam, biasanya diatas jam duabelas, dan jam segini yang mulai bergerak adalah penyedia jasa kantung plastik dan kantung kresek. dengan tas besar mereka mulai mendatangi pedagang2 pasar itu dan menyerahkan kantung-kantung plastik transparan yang biasanya dipakai untuk mengemas dagangan dalam jumlah tertentu. trik ini dipakai untuk menaikkan harga dalam bentuk eceran - selain mereka menjual dalam bentuk grosir pada pedagang lain.
(pic.google.com)
Dan bila kegiatan sortasi sudah dilakukan satu2nya hal yang mereka lakukan adalah tidur di samping dagangannya- menunggu waktu menjelang fajar tiba.
yang dimaksud waktu menjelang fajar ini adalah pukul 2.30 pagi hari......seperti ada yang mengomando kedatangan pembeli, biasanya para pedagang kecil yang menjual lagi sayur mayur dari pasar itu ke tempat mereka berjualan, di setiap daerah punya karakteristik masing-masing.
Di wilayah jakarta - jawa barat pedagang kecil ini bisa berwujud sebuah motor tanpa tambahan asesoris namun bisa berisi 80 kilogram sayur sekali angkut, dan jumlahnya bisa puluhan sampai ratusan sepeda motor. Di jawa tengah biasanya pemakaian motor roda tiga - dengan bak di belakangnya sudah populer 10 tahun terakhir ini, selain motor yang berisi suami istri yang membawa puluhan kilogram dagangan diantara mereka. Di Surabaya wujudnya beda lagi, pedagang sayur keliling memakai sepeda motor bebek yang dirangkai dengan gerobak sayur di boncengannya, meskipun berukuran 1 m X 0,5 m nyatanya mampu memuat dagangan dengan maksimal, dan jumlahnya luar biasa- gerobaknya pun rata-rata mirip.

(pic.google.com)
Kembali  pada pemandangan pasar subuh yang kacau balau tadi, sejatinya denyut ekonomi negara ini ada disana, perputaran rupiah sejati bukan di pasar modal- ekonomi riil ya di pasar subuh ini- EKONOMI RAKYAT. Di Pasar Subuh ini - pedagang sayur atau pengepul sayur  dari gunung membawa hasil kebun mereka dan menjualnya langsung di pasar.Pedagang kecil membeli dari pedagang besar untuk menjualnya lagi, pedagang makanan mendapatkan nilai tambah dari sayur yang dibelinya disini, pedagang jajanan pasar tradisional bahkan memiliki pasar khusus seperti di pasar kue Subuh Senen, dan lainnya

pasar Kue Subuh (pic.google.com)

2 komentar:

  1. Justru disinilah kita menemukan pejuang yang tak gentar melawan badai, hebat dan kokoh sebagai penyangga perekonomian, tapi disudut lain..keberadaan mereka selallu menjadi ajang penghidupan oknum dan kemudian letika pembangunan [ demikian penguasa menyebutnya] mereka tersingkirkan, bahkan disingkiran.....apakah negara ini masih menghargai pilar / soko guru perekonomian ini, sampiyan bisa menjawabnya khan ?

    BalasHapus
  2. asli.....saya ndak bisa njawab pak......yakin.

    soalnya melihat kenyataan pasar tradisional dimana2 di"bakar" atau terbakar, dan digusur lalu diganti dengan hypermarket-supermarket.

    BalasHapus