Tampilkan postingan dengan label pusaka kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pusaka kuliner. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

rasane koyok ndog bosok...........jare......woooo....... ( UpDATED)

"...It first tastes like rotten eggs...with an aftertaste of lychee...very weird...."



 Hehe...dasar wong londho....tidak idup lidahnya...........

Beberapa hal yang saya dapatkan dari foto di travelpod tersebut adalah keterbatasan informasi para turis dan pendatang yang berkunjung ke suatu wilayah hanya dengan travelbook atau guide pocketbook, mereka tidak mendapatkan gambaran yang tepat tentang suatu objek wisata, makanan atau sejarah tentang suatu tempat. Akibatnya fatal, seperti contoh kasus diatas- Blogger dengan lugas menyatakan pendapat bahwa suatu jenis makanan tidak sesuai dengan selera mereka. Dan membuat kesimpulan yang bernada negatif....sayang sekali

Dan contoh bagus dari kasus diatas adalah deskripsi tentang es duren  atau durian ice cream yang ada di blog Selby- seorang food blogger, selamat menikmati musim durian...

Kamis, 21 Juli 2011

Mie Aceh - Razali & Jus pinang muda - ndak pake nunggu ya Bang...!!

Penatnya badan serasa hilang saat Ayu- keponakan saya mengajak kami segera memanfaatkan waktu ashar  itu untuk berkeliling kota menikmati sore.
jadilah kami berlima - Ayu dan suaminya,  ibunya dan adik terkecilnya Bagus. sayang istri saya tidak bisa ikut ke Banda Aceh menghadiri pernikahan keponakannya........" Salamku yo mas..untuk Hendra....."

Berbekal tanya dan beberapa kali tersesat, sore itu kami menjenguk kapal PLTD terapung di tengah perkampungan yang masih dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, menjenguk museum Tsunami di tengah Kota, dan sholat maghrib di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Dan setelah janji ketemu dengan kedua mempelai, rupanya kebetulan mereka juga berniat mengajak kami ke Mie Razali, rumah makan Mie Aceh di peunayong- banda Aceh.dan sebelumnya dalam perjalanan ke sana - suami ayu berkali kali menggoda kami untuk mencoba mie Aceh..dan akhirnya....
sampailah kami di RM MIE RAZALI. Rumah makan itu tipikal rumah makan jaman dulu, menjorok ke dalam, kursi dan mejanya klasik, dindingnya sudah dicat baru - yang terlihat kuno adalah bekas anyaman bambu-gedheg- yang dipakai untuk alas cor lantai dua bangunan itu..membuat aksennya jadi istimewa.
saat kami masuk ada gerobag jus di depan, tulisannya Jus Pinang Muda, lengkap dengan untaian buah pinagn yang masih hijau....hmmmm......setahu saya resep ini adalah  resep kuno madura untuk aprosidiac.......saya tersenyum simpul. Menunya melulu mie - Mie basah, Mie goreng dan mie goreng basah. terakhir malah ditambahkan menu mie - mie Razali yang terbaru.
ada dua pilihan , mie biasa dan mie dengan isi ; daging;cumi;udang;kepiting. Semula kami belum tahu ap bedanya kedua menu itu, tapi setelah pesan masing-masing, ayu yang memesan mie biasa ternyata masaknya lebih lama daripada mie dengan isi daging atau cumi dan lainnya.

"....Tau gitu tadi pesen itu aja ya Oom.... keburu laper nii...heheh"  kata Ayu.
saya memesan minum jus belimbing, wiras pesan teh manis- yang notabene teh sumatera produksi PTPN IV atau yang sering kita kenal di pasar dengan teh GOALPARA kemasan orange.dan yang lain minum jus jeruk

mie daging yang sangat sopan dan berlimpah isinya

 tampilan mie razali tampak kompak- hidangan memenuhi tempatnya, kualitas mienya istimewa, dari informasi terakhir yang kami dapat , mie razali bahan mie nya buatan sendiri, dan dinas kesehatan setempat telah memeriksa kadar pengawet yang terdapat disitu, hasilnya ...Nihil...tanpa pengawet.
Mienya bagus kenyal tapi lembut, seperti mie mie lainnya buatan sendiri  bukan buatan pabrik maksud saya.
Rasanya menurut saya lumayanlah, menurut ayu mirip mie Karebossi di kendari sana, berbalut kuah tipis agak kental. rempahnya menguar dari kuahnya.
Tapi dibandingkan mie rebusMedan - atau mie Kampung Keling,  medan, kuah rempah mie Razali kalah kuat. Mie Rebus Kampung Keling Medan biasanya dihidangkan dengan telur rebus, bumbu jahe,serai,ebi dan kemiri, kuahnya kental banget.......wiuh..


mie rebus"kampung keling" Medan

Sebelum pulang kami bertemu dengan keluarga Bang Rahmat yang juga makan malam di restoran sebelah. Lagi-lagi malam itu gara-gara ndak jadi pesan jus pinang muda, jadilah saya penasaran berhari-hari......oh.....jus pinangmuda......

Mie RAZALI
Jl. T. Panglima  Polem No. 83, Banda Aceh
Telp: 0651 - 7400174



kenduri ikan kayu

 Persiapan yang dilakukan pihak keluarga pengantin putri ( dara baro) sedikitpun kami tidak diberi tahu, semula malah saya sudah hendak berangkat dengan memakai sepatu, akhirnya malah cuma pakai sendal seperti lainnya.
keponakan kami yang  kebetulan jadi pengantin pria ( Linthu baro) datang menjemput ke penginapan dan mengajak kami semua ke kediaman keluarga Pak Rahmat - kakak angkatnya yang mengurus semua persiapan pernikahan adat  Acheh tersebut. 
penjemput kami datang dan selama perjalanan itulah kami sempat merasakan bagaimana sigapnya  mereka, berkendara ala konvoi ,meskipun cuma dua mobil..hehe.. mungkin memang begitulah keseharian mereka berkendara mobil......hhhh....sport jantung kami.
sesaat kami sampai di kediaman pak Rahmat, beliau menyambut kami dengan  takzim....,masyaallah...tersentuh hati saya.
Memang pada dasarnya kami yang awam dengana adat Nangroe...jadilah kami terpelongok-longok menyaksikan,  persiapan keluarga pengantin pria, bagaimana peran Pak Keuchik  yang sangat menentukan dalam suatu prosesi pernikahan.  Semenjak dari proses perkenalan keluarga dan pertunangan sampai selesainya acara pernikahan. Namun berkat pak Rahmat lah semua kerumitan itu jadi sederhana, terimakasih Bang Rahmat.

Bang Rahmat
Sesampainya di kediaman pihak pengantin wanita, dan menanti sesaat dua saat - ternyata Pak Kheucik kampong yang bersangkutan belum hadir, jadilah kami semua - pihak pengantin Pria dan Wanita menunggu beliau......memang demikian tata kramanya. dan saat menunggu itulah saya mencium aroma wangi kari Acheh yang legendaris itu...

Suasana yang semula agak tegang berubah jadi cair saat kami-rombongan pihak pengantin pria masuk ke ruang tamu yang telah disiapkan jadi tempat akad nikah. di ujung ruang terdapat tempat duduk pengantin pria berbentuk miniatur masjid raya berwarna merah berbordir perak - mewah sekali. Pengantin duduk di atasB kasur berhias senada- duduk menanti saat akad nikah dimulai,  dengan diawali menyantap hidangan kenduri

kenduri nikah aceh
properti to http://dapurkoe.blogspot.com/2007/08/blog-post.html


di Tengah ruangan sudah tersedia hidangan kenduri bermacam-macam, makanan utama pencuci mulut dan minuman. Segera setelah kami disambut langsung wakil tuan rumah mempersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia.
ingatan saya mundur 30 tahun ke saat  kenduri khitanan saya, di pedalaman sumatera dulu, makan bersama mengelilingi satu tampah berisi hidangan yang bersahaja..........hmmmm.......
kebetulan di sebelah saya duduk warga Asli Banda aceh yang berangkat bersama kami tadi, ya sutralah....saya interogasi habiss........"pak,yang itu makanan apa namanya....yang ini,apa, kalo yang sana itu,pak?.."
Namun beliau ternyata dengan senang hati menceritakan seluk beluk hidangan asli Aceh yang kami hadapi itu.
ada kari acheh
  kue kue khas Aceh, dan panganan ringan seperti Dhodoi, haluwa breuh, wajek, dan meuseukat




 property to http://news.okezone.com/read/2011/03/07/345/432148/bertabur-penganan-raja-raja-di-lampisang

dan ada  tumis "keumamah"- ikan kayu



dan sayangnya hidangan yang terakhir ini karena letaknya jauh dari duduk saya........urunglah saya cicip....hmmm  sayang banget.............keumamah........saya akan kembali .......wkwkwkk..

Selasa, 28 Juni 2011

Pecel Gambringan _ The LEGEND

episode satu
Pecel satu ini mungkin takan pernah menyita perhatian saya jika saja penumpang KA. RAJAWALI jurusan Semarang Surabaya tidak heboh - blingsatan saat mendapatkannya.  saya menoleh ke belakang melihat mereka berlari ke ujung gerbong lalu berteriak-teriak sejurus kemudian lalu senyap..kembali ke tempat duduk masing-masing dengan membawa sepincuk "sesuatu".
saya menelan keingintahuan saya sampai malam itu, ngobrol dengan istri saya:
" oalah mesakke temen mas.....gak tau pecel Gambringan tah....." sindir istri saya. Terjemahannya ( kasiaaan deh luu..)
"pecel apa.......??" .....tanya saya .
 
Epidose dua 
sepulangnya dari kampung , saya dan istri meriang bin greges. dasar saya yang bandel - konsultasi per telepon dengan temen yang spesialis bekam ; cara tercepat mengatasi masuk angin.yang lucunya  beliau- temen saya tanya:
" perginya pake apa mas..?"
" sepur.."
" Lah....dah sempet mincuk  Pecel gambringan..??"
"gak tuh.." jawab saya pendek.
"  wooo...lha kuwi syaratnya...biar gak masuk angin...hahahahahh" ketawa temen saya lebar sekali.

Perjalanan naik KA lokal Blorajaya ekspress tujuan Semarang Bojonegoro memang diarahkan menjadi trayek KA reguler oleh PT.KA mensubstitusi keretaapi Feeder jurusan yang sama yang sudah menjadi rute tradisional. Kereta api  feeder ini oleh almarhum bapak saya dinamai sepur kluthuk - keretaapi satu satunya yang berhenti bila dicegat penumpangnya sejak jaman belanda dulu. tiketnya yang super murah RP 7500 sejak jaman dulu - ( nggak tau sebelum dollar naik berapa ongkosnya ya..).
sepur Kluthuk -jaladara ( yang masih tersisa )
 Dan di kereta inilah mbok bakul pecel gambringan yang original berada.  Kereta yang redup, penumpang
yang bersahaja, dan keramahan petugasnya ( kalo nggak mau dibilang tidak galak pada pedagang asongan KA) membuat kereta Feeder ini selalu jadi transporter utama rakyat jelata sepanjang rute semarang - puwodadi-blora-cepu-bojonegoro.
di sidebar blog ini ada postingan tentang pecel semanggi Suroboyo dan salah satu komentar disitu yang menyebutkan: 

Hmmm, kalau anda pernah naik loko kelas ekonomi, bakalan tumah menemukan penjual pecel yang lebih dahsyat lagi. Di dalam lorong gerbong yang ringsek, penuh dengan penumpang, tetapi sik penjual pecel bisa dengan santai melenggang dengan sebakul penuh tumpukan pecel di kepalanya. Lantas kalau melayani penumpang gerbong, si penjual pecel pun jongkok dengan santainya mendesak penumpang2 lain. Ngak kebayang kalau tumpukan itu kesenggol, atau tumpah.
Cel pecel mas…


The Legend
tidak ada keistimewaan sedikitpun pada kemasannya, tampilannya dan isinya. Sekepal nasi yang lumayan punel, sedikit sayur dan toge rebus dan sambel pecel secukupnya. Plus peyek denga sedikit kacang kedelai.


Ayo-ayo....keretana sudah jalan
momen yang sepersekian menit itu dengan sigap- disiasati para pedagang pecel gambringan di K.A Blorajaya jurusan Smg_-Cepu. Perempuan-perempuan perkasa itu cekatan sekali menawarkan-menjual dan mengembalikan uang kembalian pembelinya........Luar Biasa.....!!

sedikit petunjuk- dimana anda bisa mencarinya

Rabu, 15 September 2010

Hidangan Khas Lebaran di rumah kami.

Pemetikan

Perebusan

bentuk buah utuh

Pengupasan dan proses pelembutan

 Bahan baku manisan buah atap

 
 Sortasi 
 sebelah kiri buah yang tua - sebelah kanan buah yang muda


buah atap siap diproses menjadi manisan

 
pengolahan manisan buah atap

 
 Manisan buah atap  a.k.a  KOLANG-KALING

Kolang-kaling - menurut wikipedia mempunyai manfaat sebagai makanan Diet, saya juga tidak paham darimana dasar penulisan yang dipakai Artikel tersebut, tapi yang jelas bahan pangan satu ini memang identik dengan pelengkap kolak pisang.  Rasanya yang hambar-terkadang teksturnya alot-baunya kadang-kadang pesing, tapi entah kenapa selalu saja dicari orang bila bulan ramadhan tiba.
Predikat yang disandangnya belum lagi ditambah pelengkap penderita - bahwa sejak proses pemetikannya, buah ini mendatangkan siksaan bagi pemanennya. Kenapa bisa..? 
Buah pohon Aren ( Arenga pinnata  )  ini secara alamiah diliputi miang atau bulu-halus  yang bila terkena kulit akan membuat gatal-merah dan sensasi panas  sama seperti miang bambu.  Kejutan inilah yang dipakai sang senuiman Mahar dalam tarian afrikanya di Laskar Pelangi dan mengantarkan mereka jadi juara Karnaval ( Laskar Pelangi - September 2008)

                        Senimankampong -  Mahar

Belum lagi proses pembakarannya untuk menghilangkan bulu miang tersebut, ada pula proses lain - ditelan direbus utuh bersama kulitnya , proses ini biasa dilakukan di Aceh-Takengon.
Di pulau Jawa proses pembakarannnya dilakukan secara massal, tandan buah yang panjangnya rata2 dua meter itu langsung dipanggang diatas tumpukan kayu bakar yang menyala atau arangnya, dan dibakar sampai hitam legam.Bentuk buah yang sama seperti kelapa membuat daging/biji buahnya terlindungi dari api.
Proses selanjutnya pengupasan buah yang dilakkan harus dengan sarung tangan,  tempurungnya yang sangat keras - membuat proses panen buah ini memang betul-betul menguras sumur tenaga.
buah yang keras dan tua dilunakkan dengan dipukul2 dengan palu sampai memar dan kadang pecah.
lalu perendaman dilakukan untuk makin melunakkan daging buah yang keras itu.
Dari pengepul kolang kaling, pedagang pasar biasanya membeli dalam drum-drum besar untuk disortir ukurannya lalu dijual lagi dalam ukuran dan harga berbeda-beda.
Sampai di dapur, Kerepotan yang ditimbulkan bukannya berkurang,  pengolahannya harus dilakukan dengan seksama - keliru proses pembersihan - yang membuat buah tidak higienis - akan menkjadikan manisan kolangkalingnya beraroma kecut .
Setelah Ibu saya - pemilik resep pusaka ini sudah tiada - sudah setahun sejak saya berhenti membantu pembuatannya. Tahun ini saya membuat lagi  -Sendiri- manisan yang kedatangannya ditunggu banyak keluarga diJogja, Jakarta,Bekasi. kenapa bisa?
Alasannya selalu saja manisan ini yang dibawa Ibu saya jika berlebaran Ke Jogja - Ke tempat Kakak beliau yang tertua, dimana semua cucu dan cicit berkumpul dari berbagai kota - tumpah disana. Dan oleh empunya rumah hidangan ini disuguhkan di meja tamu, sejak bertahun-tahun lalu.
Jadi pasti tamu- tamu disana juga tahun lalu merasa pasti ada yang kurang di meja tamu Kakeknya di Jogja.
Tahun ini tentu saja saya membuat lagi manisan kolang-kaling yang terkenal itu, jumlahnya juga seperti tahun-tahun sebelumnya - Limabelas Kilogram -  dan semuanya didistribusikan .........untuk bingkisan lebaran.
Dan tentu saja semua keluarga yang menerimanya -sangat surprised, bahkan Oma Darmstater tertawa lebar, sambil menyelidik... 
" Darimana  J i j  tau cara bikinnya , Nyo.( sinyo - panggilan Oma ke saya )..?
" Ya Iyalaah.....dari dulu kan emang gitu, Oma........".
Manisan kolang-kaling adalah khasanah kuliner Melayu Deli, dan Tapanuli Selatan, di daerah asalnya, manisan buah untuk Idul Fitri berasal dari buah-sayur ,bunga lokal, seperti Pala,buah enau,pepaya, jambu biji.
kreativitas ibu- ibu zaman dululah yang menciptakan buah-buahan ini jadi manisan pala, manisan jambu,manisan buah enau, manisan bunga pepaya ( bunga pepaya yang pahit itu dibuat manisan...?....yak betulll !!!)
Pertanyaaannya adalah apakah di daerah asalnya tradisi ini masih ada atau sudah punah ditelan zaman..? karena pembuatnya sudah tak ada lagi...

 Demikianlah, menurut saya - " Kenangan manis dan Kenangan pahit - akan melekat di ingatan kita sampai akhir hayat. Mensikapinya sebagai Anugerah, akan membantu kita untuk memperbaiki diri dan meluruskan niat kita untuk menjadi pribadi yang lebih matang."
Selamat Lebaran......

Kamis, 15 Juli 2010

Kupat Bongkok Pak Darkom

KUPAT Bongkok merupakan salah satu makanan khas dari Tegal, makanan ini berasal dari Desa Bongkok, Larangan Surodadi. sudah populer di berbagai daerah, dengan cita rasa masakan yang terbuat dari bahan tempe dan bisa ditemukan di Warung Pak Darkom (35) di pinggiran Gedung Bani Saleh, tepatnya Alun-Alun Tegal.
kupat Bongko'

Sekilas, makanan ini terkesan sangat aneh dan unik apabila didengar dari namanya. Namun, setelah mencicipi masakan kupat bongkok akan terasa lebih enak dan sangat ketagihan untuk menambah.

Warung Kupat Bongkok milik Pak Darkom (35) sudah hampir 15 tahun menjajakan dagangannya disana. Ia mulai berjualan dari pukul 5 pagi hingga pukul 12 siang.

"Ada tiga jenis menu makanan yang dijajakannya. Mereka adalah kupat bongkok, bubur ayam dan lontong opor. Itu dilakukan agar masyarakat tidak merasa bosan, sehingga bisa mencoba menu-menu lain yang disajikan di dagangannya. Ketiga makanan tersebut harganya sangat murah dan terjangkau. Harga satu porsi kupat bongkok Rp 3.000, bubur ayam Rp 4.000 dan lontong opor Rp 5.000, "katanya.

Ia menjelaskan, jenis makanan kupat bongkok dihidangkan dalam mangkok, menunya terdiri dari potongan lontong ditambah olahan tempe yang sudah dibusukkan (tempe semangit), sambal goreng, kerupuk, taoge, plus pelengkap kecap, sambal, serta kuah dari air rebusan tempe.

"Cita rasa dari masakan tersebut, terdapat pada tempe semangit atau tempe yang telah dibusukkan, sehingga tampak aroma yang sangat lezat. Selain itu, untuk lebih terasa enak dan menggoda selera, makanan jenis ini bisa dilengkapi dengan mendoan gorengan," terangnya.

Ditambahkannya, warung miliknya selalu tampak ramai dikunjungi oleh para pengunjung. "Hal itu dibuktikan, dalam sehari dari semua penjualan menu ini dan lainnya memperoleh pendapatan sekitar Rp400 ribu. Sementara, pada liburan akhir pekan bisa mendapatkan lebih sekitar Rp700 ribu, karena liburan itu banyak masyarakat yang jalan-jalan di Alun-Alun dan sekalian singgah ke warungnya, "tukasnya.

( Susanti Retno / CN13 ) 
Kupat bongko beda dengan Kupat Glabed - makanan khas Tegal lainnya yang biasa dihidangkan dengan kuah kental( maizena) berbumbu gurih dengan warna kuning dari kunyit - dulu kupat glabed dihidangkan dengan kikil, namun sekarang dihidangkan dengan sate ayam dan sate kerang yang dibumbui senada

 
kupat glabed ( glabed artinya kental / mlekoh)

Jumat, 25 Juni 2010

Es Pleret Bertahan Empat Generasi - apa rahasianya..? ternyata.......

image












 JIKA Anda melewati jalan Magelang-Yogyakarta jangan lupa mampir ke warung es pleret di dekat pertigaan Semen, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Di sini ada warung es pleret yang sudah bertahan sampai empat generasi.

Es Pleret ini merupakan salah satu kekayaan kuliner Kabupaten Magelang. Secara fisik es pleret mirip dengan es gempol Surabaya. Keduanya sama-sama terbuat dari tepung beras. Bedanya, jika gempol berbentuk bulat dan ada gula di bagian tengah maka pleret beda.
Pleret Semen lebih lonjong dan tidak membutuhkan gula untuk memberikan rasa manis. Pasalnya, pleret dibuat dengan beras khusus yakni berasal dari padi yang hanya ditanam di tanah berpasir. "Jika padi ditanam di sawah berlumpur maka kualitas pleret akan menurun. Pleret lunak dan tidak kenyal. Rasanya juga tidak akan senikmat ini," kata Nurdayati, penjual es pleret Semen.
Pleret yang dicetak kecil-kecil ini disajikan bersama nira kelapa dan santan. Sebagai bumbu, Nurdayati hanya menggunakan panili dan garam. Ini disengaja demi menjaga mutu dan tingkat kealamian es pleret Semen.
Menurut Nurdayati hal inilah yang menjadi kunci sukses es pleret Semen bisa bertahan sampai empat generasi. Dulu, es pleret ini dirintis oleh alm Ali Pleret. Saat masa penjajahan Belanda, Ali Pleret menjajakan es secara berkeliling.
Ia kemudian mulai menetap di dekat pertigaan Sucen setelah Indonesia merdeka dan tetap bertahan hingga sekarang. Kini usaha ini diteruskan Nurdayati dan suaminya. "Kami memang sangat menjaga mutu. Kami hanya menggunakan bahan-bahan terpilih dan alami. Sama sekali tidak ada bumbu masak. Ini resep yang diwariskan turun temurun," kata dia.
Biasanya para pelanggan es pleret ini merupakan para wisatawan yang melewati jalan Yogyakarta-Magelang dan juga warga sekitar Salam. Tak jarang mobil-mobil plat luar kota yang menyempatkan diri menikmati es pleret Semen sambil melihat panorama Gunung Merapi.
Dari lokasi lapak es pleret Semen, kita memang bisa melihat Merapi di arah utara. Sementara di sisi selatan ada Gunung Chino di mana ada pemakaman Tionghoa di lereng-lereng gunung. "Rasa es pleret ini manis alami. Kami sudah langganan sejak saya masih kecil," kata Ny Fatimah, seorang nenek berumur 60 tahun.
Rasa segar dan nikmat es pleret ini diakui Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Saat berkunjung ke Magelang, Bibit menyempatkan diri menikmati es pleret khas Magelang ini. Bibit kemudian mengundang Nurdayati ke Semarang.
"Pak Gubernur senang denga es pleret buatan kami. Ia memuji, katanya rasanya manis alami dan menyegarkan. Namun kami belum bisa berkunjung ke Semarang. Kami sudah di sini selama empat generasi jadi nanti para pelanggan akan kecewa jika kami tak berjualan," kata dia.
( MH Habib Shaleh / CN13 )

ingin tahu apa rahasia dawet ini.......?
1. tanpa pengawet
2. tanpa pemanis buatan
3. bahan alami/produk organik
4. itu saja.

Jumat, 04 Juni 2010

Pesona Pasar subuh ( 2)

Pasar subuh tidak dapat lepas dari jajanan pasar, khususnya di jawa- setiap pasar punya penganan khas - yang hanya ada, dan hanya ada di pasar tersebut.  Andaikata di sudut kota ada yang menjual penganan serupa, biasanya penjualnya memang membeli dari sumber yang sama.
 Jajan pasar sejak pertengahan tahun 90an sudah menjadi trend di pesta-pesta, banyak keluarga memilih suguhan tamu berupa tampah yang dipenuhi jajan pasar seperti di bawah ini:

tampah jajan pasar 

Begitu pula pasar di setiap tempat di tanah air, masing-masing punya  ciri khas sendiri sendiri misalnya



Kue clorot
Wajik Klethik 
Jajan diatas namanya Clorot, bahannya dari tepung beras dan gula jawa yang dimasukkan dalam uliran daun kelapa - janur sehingga membentuk pola khas seperti cambuk. jajan pasar ini termasuk kuno,  dan   umum terdapat di pasar pasar jawa tengah -jogjakarta dan solo jaman dulu. Di wilayah pantura, Lasem, Rembang - di pasar pasar Desa masih ada beberapa perajin clorot- biasanya ibu-ibu tua yang masih mau membuatnya.
Wajik Klethik adalah penganan klasik jawa masa lalu, jajanan yang diabadikan Seniman kidung jawa Basiyo ini sekarang hanya ditemukan di sedikit pasar desa tradisional, kecuali beberapa perajin di Banjarnegara.

Pada umumnya jajan pasar tradisional  terbuat dari bahan - 
- Tepung Beras, tepung aren.
- Tepung Ubi kayu / gaplek
- tepung jagung
- tepung  beras ketan
- palawija; jagung,pisang dengan produk sampingannya.
- ubi kayu olahan, mentah dan fermentasi atau ubi kayu awetan
- tepung umbi lainnya ( umbi garut/lerot, umbi ganyong, umbi gadung, dst )


dan dari varian bahan baku itu muncul ratusan item makanan dan jajan pasar tradisional yang luar biasa banyak macamnya, dan terkadang kreativitas masa lalu juga meninggalkan jejak di suatu daerah. Misalnya Kue Lepet di jawa dengan kue Lepat di medan akan mempunyai bentuk dan rasa yang berbeda namun cara memasaknya sama - yaitu dikukus.
  
Gethuk magelang 
Gethuk pasar di Magelang mungkin akan berbentuk lain dengan gethuk di pasar Brebes, atau di pasar Muntilan Jawa Tengah. Namun bahan dasar yang sama membuat jajan pasar ini akan terdapat hampir di semua pasar subuh tradisional dengan macam yang mirip.


 jadah manten
Jajan pasar ini adalah jadah manten - bentuk umunya segitiga, diikat dengan bambu tipis yang disematkan potongan buncis diujungnya. penganan mirip lumpia ini dimasak dengan cara dipanggang, isinya mirip sosis solo, yaitu daging sapi yang dimasak dengan rempah yang bumbunya manis sedang. lalu dibungkus dengan  kulit adonan dari tepung beras. Jajanan ini khas pasar KotaGede -Jogjakarta.


 Kipo
Jajan pasar satu ini juga  hanya  dijumpai   di  pasar KotaGede.  bentuknya mirip sosis mini, berisi parutan kelapa manis berwarna hijau dari daun pandan, dibungkus kulit tepung ketan lalu  dipanggang dengan arang kayu.

Pasar Buah Bandungan

 loquat yang sudah matang sekali
 Kapulin- Buah Biwa - Loquat
Di Pasar Buah Bandungan  25 km dari Semarang- buah- bukan jajan pasar yang khas - hanya ada pasar ini adalah  Buah Biwa (nama lokal  di  Pasar kabanjahe- Brastagi- Parapat - Sumut) atau warga lokal Bandungan menyebutnya dengan nama "Kapulin" - kan...ndak nyambung ya...? 
Padahal nama kapulin / Capulin adalah identik dengan Red Chery  yang sering kita kenal sebagai garnish - hiasan kue tart. buah ini nama Globalnya Loquats (Eriobotrya japonica) 
Yang unik dari buah ini adalah asal muasal keberadaannya. Saya Pribadi cenderung mengaitkannya dengan keberadaan Candi peninggalan Hindu - Gedong songo di  selatan Bandungan - jawa tengah. Kemungkinan waktu dibangunnya candi tersebut ada rahib atau pendeta Hindu  atau Budha yang berasal dari Asia Timur - Tiongkok yang membawa bijinya kemudian menaburnya di sekitar Candi tersebut. Karena buah tersebut aslinya adalah endemik Cina Selatan. Di Indonesia sebarannya juga agak unik, tempat lain yang terdapat tanaman ini selain di puncak Bandungan adalah di dataran Tinggi Karo - Kabanjahe.



 Bubur Encim- Gang Baru
Pasar Gang Baru Semarang memiliki kekhususan jenis dagangannya yang sangat beragam, pembeli yang banyak dari etnis Tionghoa serta warga lainnya mengundang pasar ini diserbu pedagang dari semua wilayah jawa tengah, dari purworejo - bawa gula jawa-, dari demak- bawa kodok plus telurnya- dari pulau Karimunjawa - bawa kedondong monster - yang bisa berukuran 1 kg per bijinya. Simping goreng - dan beragam bubur ketan ala mandarin ada disini.


 Jajan Pasar Kalianda- Lampung Selatan
Pasar Kalianda Lampung Selatan, yang wilayahnya merupakan penghasil ikan di Lampung Selatan tentu saja pasarnya penuh dengan jajanan khas seperti otak-otak, jajan mirip pempek palembang- bola ikan dan jajan khas lampung lainnya. Yang saya pernah dengar - bila  kita beruntung, bisa menemukan pindang ikan marlin....WAW....ikan eksotis incaran pemancing Pro ini - di kalangan nelayan lampung cuman ikan " biasa" saja, ikan layaran biasa, mereka menangkapnya dengan memakai pelapung jerigen yang diberi tali pancing dan umpan yang panjangnya sampai ratusan meter kebawah laut. Perkiraan saya adalah wilayah perairan lampung merupakan wilayah Migrasi ikan2 raksasa ini- Black Marlin.


Kue Talam Pasar Tarutung- Tapanuli Utara
Ombus-ombus - penganan khas Batak
 Ongol-ongol
Jajan pasar diatas ini adalah khas pasar di Sumatera Utara dan sumatera Tengah,  Kue talam ( paling atas )  pasar Tarutung - kue dari tepung beras,gula jawa dan santan ini mirip bubur sumsum tapi lebih padat, di tengah adalah Ombus-ombus - penganan semacam awug-awug di jawa barat  tepung beras yang diberi gula jawa didalamnya,mirip kue putu beras di jawa, sedang yang bawah adalah ongol-ongol penganan berbentuk jelly yang ditaburi parutan kelapa- terbuat dari tepung aren dan gula aren - teksturnya sangat lembut dan gampang ditelan.


es cendol methodist - medan
ampiang dadiah - pasar Ateh- bukit tinggi
minuman khas pasar ateh(atas) ini adalah emping beras yang diberi dadiah- susu kerbau padat  fermentasi yang berbentuk mirip keju lunak- diberi sirup gula.


 Dawet selasih( biji selasih)
Dan perjalanan ke pasar subuh dan pasar tradisional biasanya ditutup dengan mampir di penjual es cendol - di sumatera utara , ampiang dadiah - pasar ateh - Bukit Tinggi Sumbar, dawet legen- pasar Baledono- Purworejo, atau Dawet Telasih di Pasar Gede Solo sebagai penutup acara belanja. Dan biasanya semua lelah terobati disitu.
Masih  nggak suka belanja di PASAR TRADISIONAL..? 

Jumat, 09 April 2010

Sarapan di Ketintang

Bulan Pebruari lalu, meskipun hanya semalam ke Surabaya - nggak sempat mampir ke warung nya jagomakan, Pak Eko weekend ke Lamongan, juga nggak jawilan sama Ayos, terdamparlah kami bertiga di Ketintang. chaos masalah undangan pernikahan sepupu yang ternyata cuma diposting di Facebook - membuat semuanya jadi serba simpel - malah.



Pagi setelah tersesat lebih dulu - didamparkan travel yang baekhati di Apartemen Sejahtera -Surabaya, komentar kakak saya "iki bangunan opo.....singup " - untungnya kamar terakhir yang tersedia sudah dibooking jam 3 pagi itu, akhirnya kami diantarkan oleh sopir taksi yang mangkal di depan apartemen sejahtera - ke wisma sejahtera Ketintang. Tidak jauh dari rumah yang punya gawe.

Namun perjalanan pagi buta di surabaya dengan travel yang beekhati tadi menyempatkan saya melihat riuh rendahnya pasar Pandegiling di pagi buta, dengan puluhan bahkan ratusan pedagang ojek sayur- istilah saya- pedagang sayur dan kelontong yang memanfaatkan sepeda motor mereka untuk melayani kebutuhan belanja Ibu-ibu di komplek perumahan. Saya teringat catatan pak Eko yang Pagi-pagi buta mengantar nyonyah ke pasar pada suatu pagi, pemandangan seperti inilah sebenarnya "nyawa" pasar tradisional, yang berdenyut sejak puluhan bahkan mungkin ratusan tahun lalu di setiap pelosok kampung dan perkotaan di tanah air.

Dan setelah pagi itu kami mampir ke rumah paman, ngobrol sekedarnya, dalam perjalanan pulang ke wisma kami sarapan di warung makan yang mungkin milik keluarga, hanya tenda dan meja sekedarnya.


lontong sayur "biasa"

saya tidak berharap banyak mendapat kejutan waktu porsi lontong ini disuguhkan, hanya aroma margarin merk tertentu yang rupanya dipake buat menumis atau tambahan kuahnya saja yang saya kenali.
Bentuknya juga biasa biasa saja, tapi waktu potongan2 lontongnya saya sendok......tekstur lontongnya lembut sekali,  belum pernah saya ketemu lontong kayak gitu...kecuali di Timur alun2 Blora - lontong tahu (warung pojok kiri) .Saya percaya tekstur lontong seperti itu pasti racikan pas antara ukuran-jenis beras-takaran isi- dan waktu merebus ( yang paling menentukan ..mungkin...hahahaha) sama halnya perbedaan merebus telur dengan selisih waktu tertentu akan menghasilkan kualitas yang berbeda.
saya jadi inget Mbak Manda yang pernah bilang ingin mengoleksi menu KETUPAT nusantara - ternyata kadang menu sederhana pun jika kualitas bahannya juara , sederhana nya tidak kelihatan - yang kelihatan juaranya.
sebelum pulang saya sempatkan ngacungi jempol sama yang punya warung.............
kapan ya mampir warungnya mbak Mendol............. 

Bubur ayam & abon ayam - Lontong sayur " OKITA"
jl. Ketintang Madya 92 a- Surabaya.
week end - jam wayah sarapan.

Rabu, 10 Februari 2010

bukan ribuan, Jutaan ton Iles-iles dikirim ke jepang

Masa kecil saya penuh dengan cerita jaman dulu orangtua, Ibu saya menceritakan bagaimana masa kecil beliau dihabiskan di sekolah dengan menyanyikan "kimigayo" dan acara rutin mereka adalah "taiso" - senam pagi. Kegiatan belajar masa pendudukan Jepang adalah mencari iles-iles. Tanpa diberi tahu untuk tujuan apa, - semua murid- tanpa kecuali harus mencari iles-iles (Amorphophallus spp), yaitu sebangsa umbi-umbian yang hidup liar di kebun, hutan dan ladang di pedalaman pulau Jawa. Selain itu setiap rumah diharuskan membuat lubang 1 x 1 x 1 meter persegi untuk membuat kompos, yang setiap beberapa bulan dikumpulkan yang juga entah untuk apa. Kegiatan mencari umbi Iles-iles ini berlangsung tanpa henti, demikian pula kegiatan menanam pohon Jarak. Ternyata dari beberapa catatan, memang kegiatan pengumpulan umbi ini juga dilakukan di sepanjang Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dan belakangan ini, sejak tahun 1962  seorang veteran Jepang  kembali ke Indonesia serta  mendirikan pabrik yang mengolah bahan baku makanan favorit di Jepang " kentang Konyaku" atau konjac. Di Jepang sendiri sejak tahun 1963, para pedagang yang menyediakan bahan baku umbi ini bergabung dalam Asosiasi Konnyaku Jepang, yang tugasnya menjamin ketersediaan pasokan umbi ini untuk bahan pangan di Jepang. Di Jepang sendiri bahan makanan ini sangat populer, dalam bentuk 3 produk turunan: shirataki kering, shirataki basah, dan konyaku. Yang disebut pertama persis mi; konyaku  seperti tahu. Untuk membuat penganan itu, umbi porang dan iles-iles dicuci bersih dan diiris  tipis-tipis sekitar 0,5 cm. Setelah kering ketebalannya menjadi hanya 0,2 cm dibikin tepung yang disebut glukomannan  . sedang di Pulau Jawa bahan bakunya yaitu umbi Iles-iles itu tadi yang kemudian dikenal variannya dengan umbi porang, tumbuh liar di hutan sejak ribuan tahun lalu. Belum pernah ada penelitian yang menyebutkan besar maksimal umbi ini, karena sifatnya yang seperti umbi-umbian lain, jika daun dan batangnya tidak muncul, maka keberadaan umbinya tidak akan diketahui.

Budidaya umbi ini di Jepang dilakukan secara intensif, bahkan khusus ditanam di area tertentu dengan pengawasan khusus pula.Pemanfaatan umbi ini oleh penduduk Indonesia, dikenal sejak jaman dulu, di Jawa dikenal dengan nama "Iles-iles" di Sunda dikenal dengan "Ileus", namun jarang dipakai sebagai bahan makanan karena efek sampingnya, yaitu bila umbi kupas terkena air dan langsung bersentuhan dengan kulit akan terasa gatal. Oleh sebab itu pada jaman jepang - sulit mendapatkan bahan makanan- iles-iles jadi sumber pangan selain umbi gadung dan umbi-umbi asli lokal lainnya.
Di Jepang makanan berbahan dasar konjac ( iles-iles ) sangat popular, mungkin aroma "aneh" seperti ikan asin itu yang membuat mereka suka pada umbi ini, harganya juga luar biasa mahal, salah satu penjual online menawarkan "kentang konyaku" kemasan dengan harga 1 kg = 1.115 Yen ..waw.......

 
  
  
  

 



Yang mengejutkan, di tempat asalnya - madiun - umbi iles-iles basah dihargai tidak lebih Rp.800 - Rp 1000,- dari petani yang mengumpulkan umbi itu dari hutan yang dikelola Departemen Kehutanan, ..keterlaluan..